Alm. M. Saleh Arief – DIMINTA PASRAH SAJA

Alm.-m.-saleh-AriefAlm. M. Saleh Arief (dituturkan istrinya, ida Rosanti)

Ida tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dengan suara tercekat, ia mengisahkan bagaimana kanker paru-paru begitu cepat merenggut nyawa suaminya, Saleh (54). Di tempat asal Saleh di Pulau Bangka, almarhum sempat dirawat karena mengeluh sesak nafas. Ida mengatakan pada 20 Desember 2011, almarhum Saleh mengalami sesak nafas hingga harus dirawat beberapa hari di Rumah Sakit PT Timah. Dari hasil rontgen tampak bahwa paru-paru suaminya berwarna agak hitam. Meski telah menjalani rawat jalan hingga dua bulan, batuknya tak kunjung sembuh, sesak nafasnya juga kumat lagi. “Kata dokter, ada tumor ganas di paru-paru bapak.

Kami disuruh ke Jakarta karena di Bangka alatnya tidak lengkap,” kenang Ida. Dengan membawa harapan sembuh, Ida membawa Saleh berobat ke Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Disinilah, Saleh divonis kanker paru-paru stadium 4 . Selama berobat jalan dan menjalani kemoterapi, keduanya tinggal di rumah singgah tak jauh dari rumah sakit. Tetapi, seminggu kemudian Ida panik karena kaki sebelah kiri Saleh tiba-tiba lumpuh. Ia juga tidak bisa buang air kecil. “Dokter bilang, kanker bapak sudah menyebar. Saya panik sekali, diam-diam saya juga sempat mencari pengobatan alternatif,” jelas Ida. “Bapak juga tidak bisa dikemoterapi lagi, dokter menyuruh saya pasrah dan banyak berdoa,” tambahnya. Kondisi Saleh memburuk karena ada cairan di paru-parunya.

Cairan tersebut su-dah terlanjur menyebar ke seluruh tubuh Saleh sebelum sempat disedot. Ternyata, perjuangan Saleh untuk sembuh harus berhenti. Pada 23 Maret 2012 menjelang subuh, disaksikan istri, anak, dan cucu, Saleh menghembuskan napas terakhir.

Diam-diam saya juga sempat mencari pengobatan alternatif

Sebelum meninggal, sadar penyakitnya dipicu karena rokok, Saleh akhirnya berhenti. Sejak itu, Saleh mulai menasihati teman-temannya untuk berhenti merokok.
Dengan pembawaannya yang ceria, ia selalu berpesan pada setiap temannya untuk berhenti merokok. “Bapak pernah bilang, ‘rokok sebatang harganya nggak seberapa, tapi akibatnya fatal dan mahal.’

Karena itu, anak-anak, jangan pernah mulai merokok. Jangan sampai seperti bapak,” tutup Ida.